Tuesday, April 6, 2010

ethical clothing 1






Search Engine Submission - AddMe

Submit Articles to the Article Dashboard Directory - Article submission and content you can use for free at ArticleDashboard.com
Di antara kaedah penting dalam agama kita adalah kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan untuk menyerupai orang kafir baik dalam masalah ibadah, hari raya maupun pakaian yang menjadi ciri khas mereka. Ini merupakan kaidah penting dalam agama kita yang sudah tidak diindahkan oleh banyak kaum muslimin. Patut diketahui bahwa dalil-dalil yang menunjukkan benarnya kaidah di atas adalah banyak sekali baik dari ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi. Berikut ini adalah di antara ayat al-Qur’an yang menunjukkan adanya kaidah di atas.


Allah berfirman yang artinya, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiah [45]: 18)

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dalam ayat di atas Allah menceritakan bahwa Dia telah memberikan kenikmatan dunia dan agama untuk Bani Israil, mereka berselisih setelah kebenaran datang kepada mereka karena rasa dengki yang ada di antara mereka. Kemudian Allah jadikan Muhammad berada di atas syariat dan Dia perintahkan agar diikuti. Selanjutnya Allah melarangnya untuk mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu. Termasuk ‘orang-orang yang tidak tahu’ adalah semua orang yang menyelisihi syariat beliau. Sedangkan yang dimaksud hawa nafsu mereka adalah semua hal yang mereka inginkan termasuk di antaranya adalah perilaku lahiriah dari orang-orang musyrik yang merupakan konsekuensi dan turunan dari agama mereka yang batil. Itu semua merupakan bagian dari apa yang mereka inginkan.
Mencocoki mereka dalam perilaku lahiriah berarti mengikuti keinginan mereka. Oleh karenanya orang-orang kafir gembira dan bersuka cita ketika kaum muslimin mengikuti sebagian perilaku mereka. Bahkan mereka rela mengeluarkan harta dalam jumlah besar agar peniruan itu terjadi.
Andai meniru perilaku lahiriah orang kafir tidak termasuk mengikuti hawa nafsu orang kafir maka tidak disangsikan lagi bahwa menyelisihi orang kafir dalam perilaku lahiriah itu lebih memupus kemungkinan terjerumus dalam sikap mengikuti hawa nafsu mereka dan lebih membantu agar mendapatkan ridho Allah dengan tidak mengikuti hawa nafsu orang kafir. Sesungguhnya meniru orang kafir dalam perilaku lahiriah itu bisa jadi sarana untuk mengikuti orang kafir dalam hal-hal yang lain. Karena siapa yang berani dekat-dekat dengan daerah larangan maka dia akan terjerumus di dalamnya. Dua penjelasan di atas bermuara pada satu titik yang sama yaitu mengikuti perilaku lahiriah orang kafir itu terlarang. Meski penjelasan yang pertama itu lebih tepat.” (al Iqtidha’, hal. 8)
Allah berfirman yang artinya, “Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (QS. ar-Ra’du [13]: 37)
Yang dimaksud dengan hawa nafsu mereka dalam ayat di atas adalah ahzab (kelompok orang kafir) yang mengingkari sebagian dari al-Qur’an. Sehingga termasuk dalam hal ini semua orang yang mengingkari sebagian dari al-Qur’an meskipun sedikit baik Yahudi, Nasrani ataupun yang lainnya.
Mengikuti orang kafir dalam hal yang merupakan ciri khas mereka baik terkait dengan agama mereka atau konsekuensi agama mereka adalah termasuk mengikuti hawa nafsu orang kafir. Bahkan karena hal yang lebih remeh lagi seorang bisa dinilai telah mengikuti hawa nafsu orang kafir.

Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hadid [57]: 16)

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang…” dalam ayat di atas merupakan larangan mutlak untuk menyerupai orang-orang kafir ahli kitab. Larangan tersebut secara khusus merupakan larangan untuk menyerupai ahli kitab dalam masalah memiliki hati yang keras. Sedangkan hati yang keras merupakan buah dari berbagai bentuk maksiat.

Tentang ayat ini Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 4/310 mengatakan, “Oleh karena itu Allah melarang orang-orang yang beriman untuk tasyabbuh/menyerupai ahli kitab dalam hal-hal pokok ataupun hal-hal yang bersifat rincian meski hanya sedikit.”

Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah.” Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS al Baqarah [2]: 148)

Dalam kitab tafsirnya 1/148, Ibnu Katsir mengatakan, “Allah larang hamba-hambaNya yang beriman untuk tasyabbuh/menyerupai orang-orang kafir baik dalam perilaku ataupun dalam kata-kata. Orang-orang Yahudi memiliki perhatian untuk menggunakan kata-kata yang bermakna ganda namun yang mereka maksudkan adalah makna jelek yang terkandung dalam kata-kata tersebut. Moga Allah melaknat mereka.

Jika mereka ingin mengatakan kepada Nabi, “Dengarkanlah kami” mereka menggunakan kalimat ‘Ro’inaa’ yang bisa bermakna ‘perhatikan kami’ dan bisa bermakna ‘dasar tolol’. Sedangkan sebenarnya makna kedualah yang mereka maksudkan, sebagaimana firman Allah QS an Nisa’[4]:46.

Demikian pula terdapat beberapa hadits yang menceritakan ulah mereka. Jika orang-orang Yahudi mengucapkan salam maka yang mereka ucapkan adalah ‘assamu ‘alaikum’ sedangkan makna assamu adalah kematian. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk menjawab salam mereka dengan mengatakan ‘wa ‘alaikum’. Doa kitalah yang akan terkabul sedangkan doa mereka untuk kita tidak akan terkabul.

Ringkasnya Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang yang kafir baik dalam kata-kata maupun dalam tingkah laku.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Qotadah dan yang lainnya menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi suka mengatakan ‘ro’inaa’ kepada Nabi dengan maksud mengejek. Oleh karenanya Allah tidak suka jika orang-orang yang beriman berkata-kata semisal kata-kata orang Yahudi. Qotadah juga mengatakan bahwa orang-orang Yahudi sering berkata kepada Nabi, ‘Ro-’inaa sam’aka’ dengan tujuan mengejek Nabi karena kata-kata tersebut dalam bahasa Yahudi memiliki makna yang buruk.

Uraian di atas menjelaskan bahwa kaum muslimin dilarang mengucapkan kata-kata tersebut karena orang-orang Yahudi suka mengatakannya meski maksud orang Yahudi jelek sedangkan maksud kaum muslimin dengan kata-kata tersebut tidaklah demikian. Karena menyerupai orang-orang Yahudi dalam kata-kata tersebut berarti menyerupai orang-orang kafir dan melapangkan jalan bagi mereka untuk mewujudkan tujuan mereka.” (al Iqtidha’, hal. 22)

Jelaslah dari ayat-ayat di atas bahwa meninggalkan perilaku orang-orang kafir dan menyerupai mereka dalam perbuatan, perkataan dan hawa nafsu mereka termasuk tujuan dan target yang dicanangkan dan diajarkan oleh al-Qur’an. Nabi pun sudah menjelaskan dan merinci hal tersebut kepada umatnya bahkan mempraktekkannya dalam berbagai rincian syariat. Demikian seriusnya Nabi dalam hal ini sampai-sampai orang-orang Yahudi yang tinggal bersama beliau di kota Madinah merasakan dan mengetahui bahwa Nabi ingin menyelisihi mereka dalam semua ciri khas mereka.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا إِذَا حَاضَتْ الْمَرْأَةُ فِيهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا وَلَمْ يُجَامِعُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ فَسَأَلَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ فَبَلَغَ ذَلِكَ الْيَهُودَ فَقَالُوا مَا يُرِيدُ هَذَا الرَّجُلُ أَنْ يَدَعَ مِنْ أَمْرِنَا شَيْئًا إِلَّا خَالَفَنَا فِيهِ

“Dari Anas bin Malik, Di antara kebiasaan orang-orang Yahudi jika terdapat seorang perempuan yang dalam kondisi haid maka mereka tidak mau makan bareng bahkan tidak mau satu atap rumah dengan perempuan tersebut. Hal tersebut ditanyakan kepada Nabi lalu turunlah firman Allah yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh…” (QS. al Baqarah [2]: 222). Nabi lantas bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu asal bukan hubungan biologis.” Setelah sabda Nabi ini sampai ke telinga orang-orang Yahudi maka mereka berkomentar, “Orang ini hanya punya keinginan untuk menyelisihi semua perilaku kita.” (HR Muslim).” [Jilbab Mar'ah Muslimah, hal. 161-165].

Penulis: airo_phobia
Artikel www.muslim.or.id

meaning:
Among kaedah important in our religion are Muslims, both men and women are not allowed to resemble a good infidel in matters of worship, holidays and clothes that become their hallmark. This is an important principle in our religion that is being ignored by many Muslims. Keep in mind that postulates that shows true rule above is a lot better from the verses of the new's paper and hadiths of the Prophet. The following are among the verses of the new's paper which shows the rules above.
Allah says what means, "Then We made you think you ar

I wish to imitate the outward behavior excluding infidels infidels follow the passions it is no doubt that mediate infidels in outward behavior that is more in the attitude of denying the possibility of falling prey to follow their own lusts, and more help to get a blessing from Allah by not following the desires of the Gentiles. Lo imitating the unbelievers in the outward behavior that could be a means to follow the Gentiles in other things. Because anyone who dared go near the restricted zone and he will fall in it. Two of the above explanation relies on a single common point is to follow the outward behavior infidels banned. Although the first explanation is more appropriate. "(Al Iqtidha ', pp. 8)

Allah says what means, "And if you follow their desires after the knowledge came to you, so once again there is no protector and guardian for you to (remember) Allah." (Surat ar-Ra'du [13]: 37)

The meaning of their desires in the above verse is Ahzab (the unbelievers) who deny some of the Koran. So in this case all those who deny a part of the Qur'an despite the slightly better Jews, Christians and others.

Following the infidels in terms that are characteristic they both associated with the consequences of their religion or their religion is included following the desires of the Gentiles. Even for the more trivial things can be assessed again one has to follow the vain desires of the Gentiles.

Allah says what means, "And let them not as people who previously had been demoted to the Scripture to him, then came to pass on their long periods and then their hearts became hardened. And most of them are people who rebel. "(Surat al-Hadid [57]: 16)

"Do you like the people who ..." in the paragraph above is an absolute prohibition to resemble the disbelievers scribes. Specifically the ban is a ban to resemble the scribes in the problem have hardened hearts. While the hardened hearts is the fruit of various forms of sinners.

About this verse by Ibn Kathir in his commentary 4 / 310 says, "Therefore God forbids believers to tasyabbuh / scribes resemble the principal matters or matters that are the details if only a little."

Allah says what means, "O ye who believe, do not you say (to Muhammad):" Raa'ina ", rather say:" Unzhurna ", and" listen. "And for those who disbelieve a painful doom. '(QS Al Baqarah [2]: 148)

In the book of tafsir 1 / 148, Ibn Kathir said, "God forbid slave-servants who believe to tasyabbuh / infidels resemble either in behavior or in words. Jews have the attention to use meaningful words double but they mean bad meaning contained in those words. Hopefully God has cursed them.

If they want to say to the prophet, "Listen to us" they use the phrase 'Ro'inaa' which can mean 'watch us' and can mean 'basic stupid'. While the latter meaning that they actually mean, as He says QS an Nisa '[4]: 46.

Similarly, there are several hadith that tells their act. If Jews say hello then they say is' assamu 'alaikum' meaning while assamu is death. Therefore we are commanded to respond to their greeting by saying 'wa' alaykum '. It is our prayer that their prayers will be answered while we are not going to come true.

To sum up the people of God forbids believers to resemble (tasyabbuh) with people who reject both in words and in behavior. "Shaykh al-Islam Ibn Taymiyyah said," Qotadah and others explained that the Jews used to say ' ro'inaa 'to the Prophet with the intention of mocking. Therefore, Allah does not like it when people who believe a word such as the words of the Jews. Qotadah also said that Jews are often said to the Prophet, 'Ro-'inaa sam'aka' with the purpose of mocking the Prophet because of these words in the language of the Jews have a bad meaning.

The above description explains that the Muslims are prohibited from saying those words because people like to say though Jewish Jews bad intentions, while the purpose of the Muslims with words is not the case. Because like the Jews in these words meant to resemble the infidels and make way for them to realize their goals. "(Al Iqtidha ', pp. 22)

It is clear from the above verses that leave the behavior of those who disbelieve and resemble them in deeds, words and their desires, including goals and targets that proclaimed and taught by the Koran. The Prophet had already explained and specifying the matter to his people even practice it in various details of the Shari'a. Thus the seriousness of the Prophet in this regard as to the Jews who lived with him in the city of Medina to feel and know that the Prophet want menyelisihi them in all their distinguishing features.

عن أنس أن اليهود كانوا إذا حاضت المرأة فيهم لم يؤاكلوها ولم يجامعوهن في البيوت فسأل أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم النبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى (ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض) إلى آخر الآية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم اصنعوا كل شيء إلا النكاح فبلغ ذلك اليهود فقالوا ما يريد هذا الرجل أن يدع من أمرنا شيئا إلا خالفنا فيه

"From Anas ibn Malik, On the habits of the Jewish people if there is a woman who is in a state of menstruation so they did not eat together do not even want one roof with the woman's house. It then asked the Prophet, God's Word came down that means, "They ask you concerning menstruation ..." (al-Baqarah [2]: 222). The Prophet then said, "Do all things home rather than biological relationships." After the prophecy of this reached the ears of Jews and they commented, "This man had only a desire to menyelisihi all our behavior." (Reported by Muslim). "[Hijab Mar'ah Muslimah, pp. 161-165].

Authors: airo_phobia
Articles www.muslim.or.id


Check out more TopSurveys at --

Continue lendo >>

thank's you

  ©WELL COME TO SAYING - Todos os direitos reservados.

Template by Dicas Blogger | Topo